Kamis, 02 Juli 2020

APA YANG SALAH?!

Ada seorang teman saya yang pernah kehilangan sepeda motor. Dibawa kabur oleh maling karena tidak pernah mengunci setang kendaraan, karena merasa selama ini aman-aman saja. Setelah itu, saya mengingatkan untuk kedepannya mengunci setang kendaraan yang diparkirkan. Tentu hal ini tak masalah. Teman saya itu tak marah kepada saya yang telah mengingatkannya itu. Apalagi menganggap saya menyalahkannya. Justru tujuan saya mengingatkan itu agar kedepannya dia tidak lupa mengunci setang. Sebagai bentuk antisipasi. Ini bukan berarti pencuri sepeda motor itu tidak salah. Lain lagi ceritanya. Di posisi ini, fokus saya mengingatkannya itu bukan untuk mencari siapa yang benar siapa yang salah. Karena soal mencuri motor, tentu kita semua sepakat itu perbuatan salah. Bahasa kerennya, no debat!

Lain cerita kalau tentang pelecehan seksual. Ini yang sering menimbulkan perdebatan yang tak berkesudahan. Saya ambil contoh kasus yang sedang heboh di media sosial twitter baru-baru ini. Kasus pelecehan seksual yang dilakukan salah satu pegawai starbucks terhadap salah satu pelanggannya. Pelecehan itu dilakukan dengan cara memperbesar tampilan gambar atau zoom in dan merekam kembali rekaman cctv yang menunjukkan belahan payudara wanita. Tentu ini sangat kurang ajar dan badjingan. Terlebih, perekam itu malah mengunggahnya pada media sosial instagram. Parahnya, terdengar suara tertawa dari si badjingan itu. Oke pada kasus ini kita sepakat, seperti pencuri sepeda motor, pegawai mesum ini jelas salah.

Namun anehnya, ketika saya berkomentar mengingatkan wanita untuk menggunakan pakaian yang lebih tertutup jika di tempat yang ada cctv malah dituduh sebagai pendukung si pelaku pelecehan. Yang paling parah dituduh sebagai pendukung pelaku pemerkosaan. Karena dianggap mempunyai pemikiran bahwa pemerkosaan itu terjadi karena salah wanita dalam berpakaian. Ini tak masuk akal. Soal pemerkosaan ataupun pelecehan, tentu yang salah adalah pelaku. Tak mungkin salah korban. Tetapi ketika ada orang yang mengingatkan tentang salah satu sebab dalam terjadinya peristiwa itu, janganlah dikatakan membela pelaku dan menyalahkan korban. Apalagi tuduhan itu selalu generalis. Tak dilihat kasus per kasus. Misalnya, pada kasus pencurian sepeda motor tadi, salah satu faktor penyebab motor itu digondol maling adalah karena tak dikunci setang. Ini memang bukan satu-satunya faktor penyebab. Tapi ketika ada yang mengingatkan pentingnya mengunci setang, ya tak ada masalah. Tak mungkin jadi ribut. Kecuali pada kasus lain, ada motor yang hilang padahal sudah dikunci setang. Pada kasus itu, kalau kita mengingatkan lagi pentingnya mengunci setang, siap-siap kena semprot si empunya motor.

Nah, dalam kasus pelecehan di starbucks ini, salah satu faktor yang menjadi penyebab peristiwa pelecehan ini adalah terbukanya bagian atas pakaian wanita itu. "Lho, kok malah menyalahkan korban". Bukan. Maksud saya begini. Karena yang saya katakan ini adalah antisipasi, maka fokusnya adalah kepada penyebab internal/dari dalam. Penyebab eksternalnya sudah jelas. Pertama, bajingan mesum itu. Kedua, adanya cctv yang merekam segala aktivitas dan berpotensi disalahgunakan. Siapa tau selama ini banyak di luar sana yang seperti bajingan itu. Menggunakan rekaman cctv untuk melihat bagian tubuh orang lain. Kita tak pernah tau. Yang ini kebetulan saja viral. 
Soal penyebab dari luar, tak mungkin bisa kita kendalikan. Tapi penyebab dari dalam diri kita, bisa kita dikendalikan. Misalnya, di kemudian hari ada lagi kasus penyalahgunaan cctv dan wanita yang disorot kamera menggunakan pakaian yang tertutup. Tentu tidak akan terjadi hal seperti ini. Walaupun rekaman cctv itu dilihat orang ya tak masalah. Sebab tak ada bagian sensitif yang terlihat di sana. 

Lalu apalah salahnya pada kasus semacam itu saya mengingatkan agar wanita berpakaian tertutup? Kecuali saya mengingatkan, sekaligus menyalahkan wanita karena pakaiannya dan malah membela pelaku. Itu jelas gila.
Belum lagi beberapa komentar yang tak nyambung dengan kasus itu. Malah membawa contoh kasus wanita yang berpakaian tertutup ataupun berhijab tetapi tetap menjadi korban pelecehan. Ya itu kasus lain. Kalau dalam kasus itu ada orang berkomentar mengingatkan tentang betapa pentingnya berpakaian tertutup, itu baru salah. Kalau pada kasus lain, maka langkah antisipasinya lain pula.

Tapi saya jadi maklum dengan tuduhan-tuduhan orang itu kepada saya. Ternyata selama ini memang ada orang yang malah menyalahkan korban pelecehan. Yasudah kalau begitu, saya anggap saja sebagai luapan kemarahan. Orang marah biasanya susah berpikir jernih. Tetapi yang jelas, dalam kasus starbucks ini saya sama sekali tak menyalahkan pakaian korban. Yang salah tetap pegawai badjingan yang merekam dan memperbesar gambar agar fokus kepada bagian sensitif itu. Saya masih waras. Anjuran untuk berpakaian tertutup itu adalah sebentuk kepedulian.

Akhir kata, izinkan saya menyampaikan kegelisahan saya lewat sajak yang belum berjudul ini:

yang terbuka dan tertutup
sama saja
mampu memancing birahi binatang

yang peduli dan kurang ajar
sama saja
dipanggil dengan sebutan jalang

besok-besok aku mau diam
jangan bilang kepedulianku redam

1 komentar:

  1. Fitrah laki2 adalah menyukai perempuan, oleh karena itu dalam tanda kutip "sangat wajar" laki2 nafsu melihat belahan dada wanita. Justru yang tidak normal itu adalah ketika wanita menggunakan pakaian seksi namun laki2 tidak nafsu melihat nya

    Teruslah sampaikan nasehat kawan, jangan berputus asa. Niatkan nasehatmu untuk mengejar pahala.

    BalasHapus