Senin, 29 Juni 2020

Surat untuk wakil rakyat: Jasmerah gelap!

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Semboyan itu adalah judul pidato yang disampaikan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang terakhir pada hari ulang tahun Republik Indonesian tahun 1966. Sejarawan Rushdy Hoesein, seperti yang saya kutip dalam CNN Indonesia, mengatakan Bung Karno memberikan judul tersebut pada pidatonya untuk mempertahankan garis politiknya yang berlaku. Dalam pidato tersebut Bung Karno menyebutkan beberapa hal penting seperti "tahun-tahun yang gawat", dan "konflik sesama anak bangsa". Sementara itu Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Suyatno, mengatakan terdapat 89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan betapa penting revolusi dan sejarah bagi Bung Karno. 

Revolusi tak mungkin bisa lepas dari konteks sejarah. Sejarah mencatat, revolusi di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan sangat berdarah-darah dan menimbulkan banyak luka. Kaitan antara kekerasan dengan revolusi memang erat, bahkan sampai konflik bersenjata. Hal itu wajar dan bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada mulanya, perjuangan anak bangsa dari golongan dan ideologi manapun sama dan memiliki satu tujuan, yaitu lepas dari cengkraman penjajah. Setelah merdeka, bukan berarti semua berakhir. Pada awal-awal kemerdekaan, berbagai golongan dan ideologi yang berjuang merasa berhak dan ingin mendirikan negara sesuai cita-cita dan ideologi yang dianutnya. Maka dari itu banyak terjadi pemberontakan dari berbagai golongan. Misalnya pemberontakan PKI yang terjadi pada tahun 1948 dan 1965, pemberontakan Permesta, pemberontakan PRRI, pemberontakan DI/TII, pemberontakan RMS dan pemberontakan-pemberontakan lain yang terjadi karena ketidakpuasan dan ketidakpercayaan kepada pemerintah Indonesia. Begitu banyak korban berjatuhan, begitu banyak duka yang dirasakan. Maka tepat sekali kalau kita tidak boleh meninggalkan atau juga melupakan sejarah. Namun itu bukan berarti kita harus mempertahankan sejarah kelam tersebut. Yang lebih terpenting adalah jangan mengulang sejarah kelam itu. Caranya hanya satu yaitu berhenti mengungkit-ungkit luka lama itu, terlebih untuk memancing keributan dan permusuhan. Sudahilah memainkan isu-isu yang sensitif dengan tujuan mengorek luka lama. Terlebih kepada para pejabat negara. Jangan biarkan kebencian-kebencian itu kian pekat dengan berbagai kebijakan dan isu-isu yang dimainkan. 

Yang paling terbaru dan masih hangat adalah keinginan DPR untuk membuat Undang-undang tentang Haluan Ideologi Pancasila. Sebenarnya tak masalah jika memang ada urgensi atau kepentingan yang begitu mendesak. Tetapi dalam situasi pandemi yang tengah terjadi ini, seharusnya mereka fokus pada hal bagaimana cara mengatasi pandemi saja. Terlebih RUU tentang Haluan Ideologi Pancasila ini menuai banyak kontroversi. Ini sangat sensitif, mengingat Pancasila sebagai ideologi atau dasar negara itu dihasilkan oleh pergolakan dan perdebatan panjang para pendiri bangsa ini. Seharusnya persoalan itu sudah selesai dan tak perlu lagi diganggu gugat. Apalagi dalam RUU itu memasukkan pemikiran Bung Karno tentang Trisila dan Ekasila yang seakan-akan mereduksi nilai pancasila. Bukan itu saja, akan tidak adil rasanya jika pemikiran Bung Karno itu dipakai sementara pemikiran tokoh lainnya terutama tokoh-tokoh umat islam mengenai dasar negara yang kemudian dituangkan ke dalam piagam jakarta tidak dipakai. Tokoh-tokoh islam ingin juga agar Sila ke-1 dalam Pancasila versi Piagam Jakarta dimasukkan dan dihidupkan kembali. Padahal persoalan ini telah lama selesai. Tapi malah tercium lagi dengan adanya RUU HIP yang seakan pilih kasih. 

Sementara itu, bagi umat islam yang memprotes dan ingin agar Sila ke-1 Pancasila versi Piagam Jakarta dimasukkan, malah dicap sebagai pengusung khilafah. Di sisi lain, bagi yang menolak gagasan dan keinginan umat islam itu dituding sebagai antek komunis, liberal, sekuler dan lain sebagainya. Tentu hal itu akan mengakibatkan sentimen dan benturan antar anak bangsa. Kita malah saling tuduh menuduh, dan lama-lama justru akan berbahaya.  Bagaimana mungkin, para pejabat-pejabat yang seharusnya lebih paham tentang itu malah terkesan sengaja memicu konflik horizontal. Apa motif kalian wahai pejabat yang katanya wakil rakyat?
Apa kalian memang sengaja membuat keributan ini agar kami sibuk berkelahi dengan sesama kami, agar tak ada lagi waktu kami untuk mengkritisi kebijakan yang jauh lebih penting? Terlebih di masa pandemi ini, seharusnya kalian lebih fokus bagaimana caranya mengatasi ini semua. Ini malah terkesan seperti memaksa kami berkelahi. Belum lagi para buzzer yang entah dikendalikan oleh siapa, yang selalu memainkan isu-isu sensitif. Motif mereka sama. Tapi yang ini lebih parah, selain untuk mengaburkan isu-isu yang lebih penting, mereka juga ingin melahirkan tokoh atau "boneka" baru yang seakan-akan bisa mengatasi permasalahan dan kemudian menjadi panutan baru bagi rakyat yang "kelaparan". 

Ujung-ujungnya ini hanya soal uang, bukanlah lagi persoalan ideologi seperti yang terjadi dahulu. Percayalah, semua api yang berusaha kalian nyalakan kembali ini akan berbahaya, dia buta dan akan membakar semuanya, kita bisa kembali berdarah-darah. Bukan kami saja, tapi kalian juga. 
Jasmerah gelap! Jangan sekali-sekali mengulang sejarah gelap!

Sabtu, 27 Juni 2020

Satu tahun: Bukan tuntutan jaksa kepada penyerang Novel Baswedan

tiga tahun lamanya aku berlari 
mencari sesuatu yang ternyata sia-sia
aku pikir aku menemukan cinta
ternyata dia malapetaka
setelah itu aku seperti dihukum
tak bisa lagi aku berlari untuk mencari

aku terpasung satu tahun
dalam jeruji yang bernama kesendirian
aku kira akan berlangsung lama
ternyata satu tahun itu sebentar
lalu kucoba lagi untuk melangkah
memburu yang namanya bahagia

pelan-pelan aku mencari 
namun belum juga kutemukan apa-apa
kupercepat langkah kaki
dan akhirnya kutemukan satu bunga
yang ternyata lebih berbahaya
lagi-lagi aku berdarah dan penuh luka 

dasar kurang ajar 
mencintainya kemarin itu
adalah kesalahanku yang teramat besar
hukuman satu tahun terlalu sebentar 
mana cukup untuk aku belajar

sebelum ada kehancuran yang lebih besar
tolong kurung aku dua puluh tahun lagi

Tanjung Pinang, 14 Juni 2020


Surat tertutup untuk "kawan" sekolah

Dear Diani
Aku dengar hari ini engkau lulus kuliah
Selamat!
Rayakanlah dengan sukacita
Kalau tidak pun tak apa
Sebab yang terpenting kau tahu selanjutnya hendak melangkah kemana
Biar kutebak, kau pasti akan melangkah ke depan
Aku tak tahu alasannya
Yang jelas, kau tak mungkin melangkah ke belakang
Benar sekali, ada aku di sana
Manalah mungkin engkau mau
Oh iya, katanya kau suka berwisata
Sekali-sekali jalan-jalanlah ke dalam pikiranku
Barangkali sekadar untuk melihat-lihat keadaanku yang sekarang
Tenang... kita sama
Merelakanmu pun aku sudah lulus


Kedai kopi, 24 Juni 2020

Semoga abadi

Tahun ini usia blog saya sudah lima tahun. Dalam kurun waktu lima tahun ini, tak ada sekalipun saya memposting di sini. Inilah postingan yang pertama. Bukannya malas menulis, bukan pula lupa. Lebih tepatnya belum berani. Aneh sebenarnya, tapi begitulah faktanya. Saya begitu pengecut untuk menyebarkan tulisan saya. Padahal belum tentu juga akan dibaca oleh banyak orang

Saya termasuk rajin menulis, tentang apa saja, di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Bagi saya menulis sama halnya dengan bercerita. Hanya saja bukan kepada manusia, tetapi kepada huruf-huruf yang kemudian melahirkan kata-kata dan tumbuh menjadi kalimat-kalimat yang menyusun cerita ataupun bentuk yang lainnya. Bercerita kepada barisan huruf-huruf sangat menyenangkan. Minim resiko. Huruf-huruf itu tak pernah protes, apalagi marah. Padahal mereka berpotensi berubah wujud menjadi kata, lalu kalimat. Syukur-syukur kalau bagus. Tetapi mereka tak pernah marah ketika bermetamorfosis menjadi tulisan yang tak bagus, bahkan tak dimengerti. 

Lain lagi ceritanya ketika saya bercerita kepada manusia. Rasanya sudah jelas yang saya sampaikan, jujur dan apa adanya, tetapi mereka kadang malah marah-marah. Itu tak seberapa, yang paling parah kadang mereka pergi meninggalkan saya. Tetapi huruf-huruf tak pernah pergi. Justru huruf-huruf itu memperbanyak diri ketika saya ingin bercerita kepada mereka.

Selama ini saya hanya menulis dalam catatan-catatan harian, aplikasi-aplikasi catatan di laptop ataupun di telepon cerdas. Sebenarnya itu cukup bagi saya, tak kurang. Toh saya juga tak terlalu berambisi agar banyak orang yang menyukai tulisan saya. Tetapi akhir-akhir ini saya cemas. Kalaulah saya mati, apa kabar tulisan-tulisan itu? Mereka akan ikut mati. Padahal kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kalau saya orang terkenal, terpandang dan berpengaruh kepada banyak orang mungkin saya tak akan secemas ini. Karena tulisan-tulisan saya akan tetap dirawat oleh banyak orang. Tetapi saya ini hanya orang biasa yang bahkan untuk lulus kuliah tiga setengah tahun saja tak bisa. Jadi cara yang mungkin satu-satunya untuk tetap merawat hasil pemikiran saya lewat tulisan-tulisan agar ia abadi adalah dengan menuliskannya di blog ini. Harap saya tak banyak, satu orang saja yang membaca selain saya, bagi saya itu sudah berhasil untuk merawat tulisan-tulisan saya. Cukup dan tak kurang. Jadi, bagi "engkau" yang nanti menemukan dan membaca tulisan saya ini, saya ucapkan terima kasih yang tak ada habis-habisnya. Tapi kalau boleh berharap lebih, saya juga ingin "engkau" sama halnya seperti huruf-huruf yang bisa menjelma menjadi kalimat; mampu memperbanyak diri; menjadi "kalian". 

Mungkin ke depannya saya akan rajin memposting tulisan-tulisan saya yang sudah lama lahir, ke dalam blog ini. Oleh karena itu tulisan-tulisan yang saya posting di sini tidak berarti itu tulisan baru. Bisa jadi tulisan-tulisan lama. Dan untuk itu saya juga membutuhkan waktu memilah tulisan mana yang akan saya posting di sini. Sebab soal keberanian tadi hingga saat ini masih menjadi alasan yang belum tuntas saya menangkan karena berbagai pertimbangan. Mungkin beberapa tulisan saya memang tak memiliki kaki untuk bepergian ke kepala orang lain. Jadi untuk tulisan-tulisan yang tak memiliki kaki itu, biarkanlah mereka tetap di rumahnya, di dalam kepala saya.

Akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk engkau! eh, kalian!