Barangkali beberapa
teman-teman yang mengenal saya sejak zaman sekolah sekarang menganggap saya
adalah fans karbitan. Itu tak sepenuhnya salah. Sebab dalam dua timeline kehidupan yang berbeda, saya
menjadi penggemar dua klub sepak bola yang berbeda pula. Circa 2010, saat duduk
di bangku sekolah menengah pertama, saya menjadi pendukung kesebelasan FC Barcelona.
Tentu saja, teman-teman sekolah saya tahu betul apa klub favorit saya. Lalu
sekitar tahun 2015, saat akhir-akhir SMA hingga saat ini, saya mendukung kesebelasan
dari Liga Primer Inggris, Liverpool.
Bagi teman-teman masa
remaja saya saat itu, mereka mungkin sekarang agak bingung melihat saya yang
berpindah haluan mendukung klub lain. Berbeda dengan teman-teman yang baru saya
kenal pada saat kuliah, yang mereka tahu saya adalah pendukung Liverpool.
Tetapi tentulah semua ada pertimbangan. Bagi saya, menjadi penggemar sebuah
klub sepak bola itu sama halnya dengan menyukai wanita. Pilihan untuk menyukai
wanita mana, ada ditangan kita, dan pilihan itu tentu ada alasan. Tetapi
bagaimana seseorang bisa memberi alasan terhadap pilihannya itu perkara
berbeda. Alasan pragmatis pun kadang tak terelakkan. Misalnya menyukai klub
sepak bola yang disukai oleh gebetan, dengan harap bertambahlah sedikit tingkat
keberhasilan untuk memulai hubungan. Atau jika ditingkat anak-anak remaja,
menyukai klub yang disukai oleh teman-teman sepermainan biar obrolan jadi
nyambung.
Tapi itu tak salah.
Manusia seusia itu belum mampu memberi alasan yang hebat dari apa yang ia pilih.
Wajar dan sangat manusiawi. Pada usia itu, daripada memikirkan hal yang
berat-berat lebih baik bermain bola dengan kawan-kawan dilapangan kosong
sekitar perumahan. Ada juga anak-anak yang menjadi penggemar klub sepak bola
karena mengikuti jejak orang tuanya. Barangkali itu sebagai bentuk
kecintaannya. Hal seperti itulah yang tak saya dapatkan. Ayah dan Ibu saya bukanlah
penggemar klub sepak bola. Tapi sesekali Ayah saya ada juga menonton siaran
pertandingan sepak bola di televisi. Paling hanya sekadar melihat sepintas dan
tidak terlalu tertarik sampai mengidolakan klub tertentu. Ayah saya lebih
seringnya menonton pertandingan tinju. Oleh karena itu, ketika masih bocah saya
tidak ada mengidolakan klub sepak bola manapun.
Tapi walau bukan
penggemar sepak bola, Ayah pernah membelikan saya kaos bola. Kaos timnas
sepak bola Italia, bernama punggung Totti. Kaos itulah yang menjadi kaos bola
saya pertama kali. Kaos itulah yang menemani masa kecil saya ketika bermain
bola bersama kawan-kawan di lapangan sekitar perumahan. Namun seiring
berjalannya waktu, saya ingin juga seperti kawan-kawan saya yang menggunakan
kaos bola dari klub kebanggaannya. Masalahnya, pada saat itu saya sendiri tidak
tau klub apa yang sebenarnya saya idolakan. Alhasil koleksi kaos bola saya
campur-campur seperti rujak. Ada kaos Manchester United, Liverpool, Barcelona,
Real Madrid, dan klub terkenal lainnya.
Tapi jujur, pada saat
itu yang sering saya gunakan adalah kaos klub bola Liverpool dan Barcelona.
Karena kebetulan kaos yang saya miliki itu bernama punggung pemain yang menurut
saya hebat. Kaos Liverpool saya bernama punggung Torres. Kaos Barcelona saya
kalau tidak salah bernama punggung Henry. Kaos yang saya sebut terakhir itu
hasil pemberian dari kawan saya. Entah kebetulan atau tidak, ketika saya
menggunakan kedua kaos bola itu saat bermain sepak bola, kemampuan bermain bola
saya menjadi meningkat alias makin jago. Itulah yang membuat saya lebih suka
menggunakan dua kaos klub sepak bola itu ketimbang kaos klub bola lainnya.
Lama kelamaan saya pun
mulai menyukai dua klub sepak bola itu. Tapi bukan lelaki sejati namanya kalau
tak bisa memutuskan pilihan. Di antara dua klub itu saya memutuskan untuk
menjadi penggemar Barcelona. Kebetulan pada masa itu memang Barcelona sedang kuat-kuatnya.
Permainannya sangat tak layak untuk tidak ditonton. Saya mulai sering
membaca-baca sejarah klub itu untuk lebih mengenal. Sebab kalau tak kenal maka
tak sayang.
Karena kecintaan saya
dengan klub itu, maka setiap kali bermain bola di playstation, saya selalu menggunakan klub itu. Tentu saja saya
lebih sering menang daripada kalah. Karena dalam dunia playstation pun klub itu memang kuat. Pemain-pemainnya memiliki
status poin diatas rata-rata pemain dari klub lain. Sampai pada suatu waktu,
saya pernah diledek oleh kawan saya karena hanya berani menggunakan klub itu
setiap bermain PS. Hal itu membuat saya tertantang dan mencoba-coba menggunakan
klub lain yang tidak sekuat Barcelona. Berbagai klub saya coba pakai, tak ada
satupun rasanya yang seenak ketika menggunakan Barcelona. Kali ini saya lebih
sering kalah daripada menang.
Sampai pada akhirnya
saya teringat bahwa dulu saya juga pernah menyukai Liverpool. Maka saya coba
menggunakan klub itu. Tapi betapa terkejutnya saya melihat status poin
pemain-pemainnya. Rendah-rendah. Pemain-pemain hebatnya pun sudah tak lagi
banyak. Asli, berat sekali rasanya memenangkan pertandingan dengan menggunakan
Liverpool. Apalagi melawan klub-klub yang memiliki pemain yang kehebatannya
diatas rata-rata. Bisa diazab. Tapi karena hal itu justru membuat saya lebih
tertantang. Saya fokuskan tetap menggunakan Liverpool setiap bermain bola di playstation. Saya racik-racik sendiri
formasi baru untuk menemukan yang pas dan mantap. Pokoknya saya makin sering
bermain playstation saat itu. Sampai-sampai
cabut sekolah.
Yang ada di dalam
kepala saya waktu itu hanya bagaimana caranya saya bisa memenangkan setiap
permainan dengan menggunakan Liverpool. Saya sampai mencari-cari formasi yang
mantap pada mbah Google ataupun Youtube. Tapi tetap saja, sulit sekali menang
dengan menggunakan klub yang berisi pemain-pemain di bawah rata-rata.
Sampai-sampai saya kesal sendiri. Mengumpati pemain-pemain Liverpool adalah
rutinitas saya ketika kalah bermain. Sampai kawan saya yang juga lawan dalam
bermain PS menceramahi saya. “Bagaimana mau menang, pemain dari klub favorit
sendiri malah dimaki-maki” katanya pada saya. Saya agak tersentak. Betul juga
apa yang dia bilang.
Akhirnya saya
memutuskan untuk mencoba mencintai klub itu. Manalah tau dengan itu saya lebih
jago menggunakan klub itu dan meraih kemenangan demi kemenangan saat bermain
PS. Saya mulai membaca-baca sejarah klub itu. Menonton pertandingan-pertandingannya.
Baik pertandingan yang sedang berlangsung ataupun siaran ulang pada masa-masa
kejayaannya. Saya makin sering menggunakan mesin pencarian Google dengan
menuliskan kata kunci yang berhubungan dengan Liverpool. Hingga saya menemukan
ulasan film yang mengangkat cerita tentang fans Liverpool.
Film itu berjudul Will, yang dirilis pada tahun 2011. Saya
yang penasaran dan memang sedang ingin mencari tau semua yang berhubungan
dengan Liverpool pun akhirnya menonton film itu. Saya tak akan mengulas film
itu dalam tulisan ini. Intinya film itulah yang membuat saya semakin jatuh
cinta dengan Liverpool. Karena sebenarnya saya juga sudah jatuh cinta dengan
klub ini karena slogan klubnya yang menurut saya begitu menyentuh dan indah
sekali.
Semenjak mencintai klub
ini, keajaiban pun terjadi. Setiap bermain playstation
saya semakin bangga dan yakin menggunakan Liverpool. Meskipun tetap lebih
sering kalah. Karena memang susah sekali menggunakan Liverpool yang pada masa
itu diisi pemain-pemain yang status poinnya seperti hidup segan mati tak mau. Pemain depannya seperti jalan kaki.
Larinya lamban sekali. Pemain bertahannya macam bangunan tua. Sudah hampir
roboh. Sulit sekali mau menang dengan komposisi pemain seperti itu. Tetapi
bedanya, saya tak lagi marah-marah seperti dulu. Saya tak lagi memaki-maki
pemain itu ketika kalah. Walaupun dalam hati ada sedikit kesal. Itu baru di
dalam permainan playstation. Dalam pertandingan
yang sesungguhnya pun klub yang saya cintai ini nasibnya tak jauh beda. Hancur.
Tapi saya sudah kadung jatuh cinta dengan klub ini. Mengingat perjuangan saya
selama ini yang begitu serius sekali mempelajari untuk menggunakannya dalam
bermain playstation. Juga karena
karena sejarah-sejarahnya dan yang paling terakhir karena film yang berjudul Will itu. Akhirnya saya memantapkan hati
untuk menjadi pendukung Liverpool.
Bagi saya ada tantangan tersendiri sebagai penggemar Liverpool. Bagaimana tidak, seringkali kali saat menonton pertandinganya, saya tak bisa santai. Selalu senam jantung. Dan bagi saya itu menyenangkan sekali. Meski ada juga kadang-kadang mereka bermain biasa-biasa saja yang membuat agak membosankan untuk ditonton. Tapi saya sangat bersyukur karena dalam waktu kurang lebih lima tahun saja sejak memutuskan untuk menjadi pendukung klub ini, saya bisa melihat klub kesayangan saya mengangkat Piala Liga Champions. Dan yang paling terbaru menjuarai Liga Inggris yang terakhir kali diraih tiga puluh tahun yang lalu. Penantian yang sangat lama bagi penggemar yang sedari dulu setia mendukung Liverpool. Yang barangkali sekarang sudah berumur tua.
Akhir kata, saya
ucapkan selamat untuk semua Kopites di seluruh dunia! Terutama untuk yang sudah
bangkotan. Selamat, kakek!
You’ll Never Walk Alone!
Dari saya, fans
karbitan.
