Jumat, 03 Juli 2020

Fans karbitan!

Barangkali beberapa teman-teman yang mengenal saya sejak zaman sekolah sekarang menganggap saya adalah fans karbitan. Itu tak sepenuhnya salah. Sebab dalam dua timeline kehidupan yang berbeda, saya menjadi penggemar dua klub sepak bola yang berbeda pula. Circa 2010, saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya menjadi pendukung kesebelasan FC Barcelona. Tentu saja, teman-teman sekolah saya tahu betul apa klub favorit saya. Lalu sekitar tahun 2015, saat akhir-akhir SMA hingga saat ini, saya mendukung kesebelasan dari Liga Primer Inggris, Liverpool.

Bagi teman-teman masa remaja saya saat itu, mereka mungkin sekarang agak bingung melihat saya yang berpindah haluan mendukung klub lain. Berbeda dengan teman-teman yang baru saya kenal pada saat kuliah, yang mereka tahu saya adalah pendukung Liverpool. Tetapi tentulah semua ada pertimbangan. Bagi saya, menjadi penggemar sebuah klub sepak bola itu sama halnya dengan menyukai wanita. Pilihan untuk menyukai wanita mana, ada ditangan kita, dan pilihan itu tentu ada alasan. Tetapi bagaimana seseorang bisa memberi alasan terhadap pilihannya itu perkara berbeda. Alasan pragmatis pun kadang tak terelakkan. Misalnya menyukai klub sepak bola yang disukai oleh gebetan, dengan harap bertambahlah sedikit tingkat keberhasilan untuk memulai hubungan. Atau jika ditingkat anak-anak remaja, menyukai klub yang disukai oleh teman-teman sepermainan biar obrolan jadi nyambung.

Tapi itu tak salah. Manusia seusia itu belum mampu memberi alasan yang hebat dari apa yang ia pilih. Wajar dan sangat manusiawi. Pada usia itu, daripada memikirkan hal yang berat-berat lebih baik bermain bola dengan kawan-kawan dilapangan kosong sekitar perumahan. Ada juga anak-anak yang menjadi penggemar klub sepak bola karena mengikuti jejak orang tuanya. Barangkali itu sebagai bentuk kecintaannya. Hal seperti itulah yang tak saya dapatkan. Ayah dan Ibu saya bukanlah penggemar klub sepak bola. Tapi sesekali Ayah saya ada juga menonton siaran pertandingan sepak bola di televisi. Paling hanya sekadar melihat sepintas dan tidak terlalu tertarik sampai mengidolakan klub tertentu. Ayah saya lebih seringnya menonton pertandingan tinju. Oleh karena itu, ketika masih bocah saya tidak ada mengidolakan klub sepak bola manapun.

Tapi walau bukan penggemar sepak bola, Ayah pernah membelikan saya kaos bola. Kaos timnas sepak bola Italia, bernama punggung Totti. Kaos itulah yang menjadi kaos bola saya pertama kali. Kaos itulah yang menemani masa kecil saya ketika bermain bola bersama kawan-kawan di lapangan sekitar perumahan. Namun seiring berjalannya waktu, saya ingin juga seperti kawan-kawan saya yang menggunakan kaos bola dari klub kebanggaannya. Masalahnya, pada saat itu saya sendiri tidak tau klub apa yang sebenarnya saya idolakan. Alhasil koleksi kaos bola saya campur-campur seperti rujak. Ada kaos Manchester United, Liverpool, Barcelona, Real Madrid, dan klub terkenal lainnya.

Tapi jujur, pada saat itu yang sering saya gunakan adalah kaos klub bola Liverpool dan Barcelona. Karena kebetulan kaos yang saya miliki itu bernama punggung pemain yang menurut saya hebat. Kaos Liverpool saya bernama punggung Torres. Kaos Barcelona saya kalau tidak salah bernama punggung Henry. Kaos yang saya sebut terakhir itu hasil pemberian dari kawan saya. Entah kebetulan atau tidak, ketika saya menggunakan kedua kaos bola itu saat bermain sepak bola, kemampuan bermain bola saya menjadi meningkat alias makin jago. Itulah yang membuat saya lebih suka menggunakan dua kaos klub sepak bola itu ketimbang kaos klub bola lainnya.

Lama kelamaan saya pun mulai menyukai dua klub sepak bola itu. Tapi bukan lelaki sejati namanya kalau tak bisa memutuskan pilihan. Di antara dua klub itu saya memutuskan untuk menjadi penggemar Barcelona. Kebetulan pada masa itu memang Barcelona sedang kuat-kuatnya. Permainannya sangat tak layak untuk tidak ditonton. Saya mulai sering membaca-baca sejarah klub itu untuk lebih mengenal. Sebab kalau tak kenal maka tak sayang.

Karena kecintaan saya dengan klub itu, maka setiap kali bermain bola di playstation, saya selalu menggunakan klub itu. Tentu saja saya lebih sering menang daripada kalah. Karena dalam dunia playstation pun klub itu memang kuat. Pemain-pemainnya memiliki status poin diatas rata-rata pemain dari klub lain. Sampai pada suatu waktu, saya pernah diledek oleh kawan saya karena hanya berani menggunakan klub itu setiap bermain PS. Hal itu membuat saya tertantang dan mencoba-coba menggunakan klub lain yang tidak sekuat Barcelona. Berbagai klub saya coba pakai, tak ada satupun rasanya yang seenak ketika menggunakan Barcelona. Kali ini saya lebih sering kalah daripada menang.

Sampai pada akhirnya saya teringat bahwa dulu saya juga pernah menyukai Liverpool. Maka saya coba menggunakan klub itu. Tapi betapa terkejutnya saya melihat status poin pemain-pemainnya. Rendah-rendah. Pemain-pemain hebatnya pun sudah tak lagi banyak. Asli, berat sekali rasanya memenangkan pertandingan dengan menggunakan Liverpool. Apalagi melawan klub-klub yang memiliki pemain yang kehebatannya diatas rata-rata. Bisa diazab. Tapi karena hal itu justru membuat saya lebih tertantang. Saya fokuskan tetap menggunakan Liverpool setiap bermain bola di playstation. Saya racik-racik sendiri formasi baru untuk menemukan yang pas dan mantap. Pokoknya saya makin sering bermain playstation saat itu. Sampai-sampai cabut sekolah.

Yang ada di dalam kepala saya waktu itu hanya bagaimana caranya saya bisa memenangkan setiap permainan dengan menggunakan Liverpool. Saya sampai mencari-cari formasi yang mantap pada mbah Google ataupun Youtube. Tapi tetap saja, sulit sekali menang dengan menggunakan klub yang berisi pemain-pemain di bawah rata-rata. Sampai-sampai saya kesal sendiri. Mengumpati pemain-pemain Liverpool adalah rutinitas saya ketika kalah bermain. Sampai kawan saya yang juga lawan dalam bermain PS menceramahi saya. “Bagaimana mau menang, pemain dari klub favorit sendiri malah dimaki-maki” katanya pada saya. Saya agak tersentak. Betul juga apa yang dia bilang.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba mencintai klub itu. Manalah tau dengan itu saya lebih jago menggunakan klub itu dan meraih kemenangan demi kemenangan saat bermain PS. Saya mulai membaca-baca sejarah klub itu. Menonton pertandingan-pertandingannya. Baik pertandingan yang sedang berlangsung ataupun siaran ulang pada masa-masa kejayaannya. Saya makin sering menggunakan mesin pencarian Google dengan menuliskan kata kunci yang berhubungan dengan Liverpool. Hingga saya menemukan ulasan film yang mengangkat cerita tentang fans Liverpool.

Film itu berjudul Will, yang dirilis pada tahun 2011. Saya yang penasaran dan memang sedang ingin mencari tau semua yang berhubungan dengan Liverpool pun akhirnya menonton film itu. Saya tak akan mengulas film itu dalam tulisan ini. Intinya film itulah yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan Liverpool. Karena sebenarnya saya juga sudah jatuh cinta dengan klub ini karena slogan klubnya yang menurut saya begitu menyentuh dan indah sekali.

Semenjak mencintai klub ini, keajaiban pun terjadi. Setiap bermain playstation saya semakin bangga dan yakin menggunakan Liverpool. Meskipun tetap lebih sering kalah. Karena memang susah sekali menggunakan Liverpool yang pada masa itu diisi pemain-pemain yang status poinnya seperti hidup segan mati tak mau. Pemain depannya seperti jalan kaki. Larinya lamban sekali. Pemain bertahannya macam bangunan tua. Sudah hampir roboh. Sulit sekali mau menang dengan komposisi pemain seperti itu. Tetapi bedanya, saya tak lagi marah-marah seperti dulu. Saya tak lagi memaki-maki pemain itu ketika kalah. Walaupun dalam hati ada sedikit kesal. Itu baru di dalam permainan playstation. Dalam pertandingan yang sesungguhnya pun klub yang saya cintai ini nasibnya tak jauh beda. Hancur. Tapi saya sudah kadung jatuh cinta dengan klub ini. Mengingat perjuangan saya selama ini yang begitu serius sekali mempelajari untuk menggunakannya dalam bermain playstation. Juga karena karena sejarah-sejarahnya dan yang paling terakhir karena film yang berjudul Will itu. Akhirnya saya memantapkan hati untuk menjadi pendukung Liverpool.

Bagi saya ada tantangan tersendiri sebagai penggemar Liverpool. Bagaimana tidak, seringkali kali saat menonton pertandinganya, saya tak bisa santai. Selalu senam jantung. Dan bagi saya itu menyenangkan sekali. Meski ada juga kadang-kadang mereka bermain biasa-biasa saja yang membuat agak membosankan untuk ditonton. Tapi saya sangat bersyukur karena dalam waktu kurang lebih lima tahun saja sejak memutuskan untuk menjadi pendukung klub ini, saya bisa melihat klub kesayangan saya mengangkat Piala Liga Champions. Dan yang paling terbaru menjuarai Liga Inggris yang terakhir kali diraih tiga puluh tahun yang lalu. Penantian yang sangat lama bagi penggemar yang sedari dulu setia mendukung Liverpool. Yang barangkali sekarang sudah berumur tua.

Akhir kata, saya ucapkan selamat untuk semua Kopites di seluruh dunia! Terutama untuk yang sudah bangkotan. Selamat, kakek!

You’ll Never Walk Alone!

Dari saya, fans karbitan.

 

 


Kamis, 02 Juli 2020

Menjadi Bijak

"Hidup adalah sebuah perjalanan, 
maka nikmatilah" 
Kata orang bijak yang kaya raya.

"Benar. Tapi kita hanya penumpang. 
Takdirlah yang mengemudikannya. 
Kebetulan, takdirku tak sebagus engkau. 
Tak masalah, mari kita nikmati!" 
Kata orang bijak yang miskin harta.

"Hidup ini penghianatan,
kudapatkan semuanya, 
kecuali kebahagiaan.
Apanya yang nikmat?!" 
Kata orang yang kaya raya.

"Benar, hidup memang penghianatan. 
Sudah berjuang aku mati-matian, 
tak satupun kudapatkan.
Sungguh, hidup tak nikmat" 
Kata orang yang miskin harta.

"Oh berarti yang terpenting adalah menjadi bijak, 
bukan menjadi orang" 
Kata orang utan yang terkurung dalam kandang,
sembari menghibur orang-orang non utan.
Pada sebuah kebun binatang.



APA YANG SALAH?!

Ada seorang teman saya yang pernah kehilangan sepeda motor. Dibawa kabur oleh maling karena tidak pernah mengunci setang kendaraan, karena merasa selama ini aman-aman saja. Setelah itu, saya mengingatkan untuk kedepannya mengunci setang kendaraan yang diparkirkan. Tentu hal ini tak masalah. Teman saya itu tak marah kepada saya yang telah mengingatkannya itu. Apalagi menganggap saya menyalahkannya. Justru tujuan saya mengingatkan itu agar kedepannya dia tidak lupa mengunci setang. Sebagai bentuk antisipasi. Ini bukan berarti pencuri sepeda motor itu tidak salah. Lain lagi ceritanya. Di posisi ini, fokus saya mengingatkannya itu bukan untuk mencari siapa yang benar siapa yang salah. Karena soal mencuri motor, tentu kita semua sepakat itu perbuatan salah. Bahasa kerennya, no debat!

Lain cerita kalau tentang pelecehan seksual. Ini yang sering menimbulkan perdebatan yang tak berkesudahan. Saya ambil contoh kasus yang sedang heboh di media sosial twitter baru-baru ini. Kasus pelecehan seksual yang dilakukan salah satu pegawai starbucks terhadap salah satu pelanggannya. Pelecehan itu dilakukan dengan cara memperbesar tampilan gambar atau zoom in dan merekam kembali rekaman cctv yang menunjukkan belahan payudara wanita. Tentu ini sangat kurang ajar dan badjingan. Terlebih, perekam itu malah mengunggahnya pada media sosial instagram. Parahnya, terdengar suara tertawa dari si badjingan itu. Oke pada kasus ini kita sepakat, seperti pencuri sepeda motor, pegawai mesum ini jelas salah.

Namun anehnya, ketika saya berkomentar mengingatkan wanita untuk menggunakan pakaian yang lebih tertutup jika di tempat yang ada cctv malah dituduh sebagai pendukung si pelaku pelecehan. Yang paling parah dituduh sebagai pendukung pelaku pemerkosaan. Karena dianggap mempunyai pemikiran bahwa pemerkosaan itu terjadi karena salah wanita dalam berpakaian. Ini tak masuk akal. Soal pemerkosaan ataupun pelecehan, tentu yang salah adalah pelaku. Tak mungkin salah korban. Tetapi ketika ada orang yang mengingatkan tentang salah satu sebab dalam terjadinya peristiwa itu, janganlah dikatakan membela pelaku dan menyalahkan korban. Apalagi tuduhan itu selalu generalis. Tak dilihat kasus per kasus. Misalnya, pada kasus pencurian sepeda motor tadi, salah satu faktor penyebab motor itu digondol maling adalah karena tak dikunci setang. Ini memang bukan satu-satunya faktor penyebab. Tapi ketika ada yang mengingatkan pentingnya mengunci setang, ya tak ada masalah. Tak mungkin jadi ribut. Kecuali pada kasus lain, ada motor yang hilang padahal sudah dikunci setang. Pada kasus itu, kalau kita mengingatkan lagi pentingnya mengunci setang, siap-siap kena semprot si empunya motor.

Nah, dalam kasus pelecehan di starbucks ini, salah satu faktor yang menjadi penyebab peristiwa pelecehan ini adalah terbukanya bagian atas pakaian wanita itu. "Lho, kok malah menyalahkan korban". Bukan. Maksud saya begini. Karena yang saya katakan ini adalah antisipasi, maka fokusnya adalah kepada penyebab internal/dari dalam. Penyebab eksternalnya sudah jelas. Pertama, bajingan mesum itu. Kedua, adanya cctv yang merekam segala aktivitas dan berpotensi disalahgunakan. Siapa tau selama ini banyak di luar sana yang seperti bajingan itu. Menggunakan rekaman cctv untuk melihat bagian tubuh orang lain. Kita tak pernah tau. Yang ini kebetulan saja viral. 
Soal penyebab dari luar, tak mungkin bisa kita kendalikan. Tapi penyebab dari dalam diri kita, bisa kita dikendalikan. Misalnya, di kemudian hari ada lagi kasus penyalahgunaan cctv dan wanita yang disorot kamera menggunakan pakaian yang tertutup. Tentu tidak akan terjadi hal seperti ini. Walaupun rekaman cctv itu dilihat orang ya tak masalah. Sebab tak ada bagian sensitif yang terlihat di sana. 

Lalu apalah salahnya pada kasus semacam itu saya mengingatkan agar wanita berpakaian tertutup? Kecuali saya mengingatkan, sekaligus menyalahkan wanita karena pakaiannya dan malah membela pelaku. Itu jelas gila.
Belum lagi beberapa komentar yang tak nyambung dengan kasus itu. Malah membawa contoh kasus wanita yang berpakaian tertutup ataupun berhijab tetapi tetap menjadi korban pelecehan. Ya itu kasus lain. Kalau dalam kasus itu ada orang berkomentar mengingatkan tentang betapa pentingnya berpakaian tertutup, itu baru salah. Kalau pada kasus lain, maka langkah antisipasinya lain pula.

Tapi saya jadi maklum dengan tuduhan-tuduhan orang itu kepada saya. Ternyata selama ini memang ada orang yang malah menyalahkan korban pelecehan. Yasudah kalau begitu, saya anggap saja sebagai luapan kemarahan. Orang marah biasanya susah berpikir jernih. Tetapi yang jelas, dalam kasus starbucks ini saya sama sekali tak menyalahkan pakaian korban. Yang salah tetap pegawai badjingan yang merekam dan memperbesar gambar agar fokus kepada bagian sensitif itu. Saya masih waras. Anjuran untuk berpakaian tertutup itu adalah sebentuk kepedulian.

Akhir kata, izinkan saya menyampaikan kegelisahan saya lewat sajak yang belum berjudul ini:

yang terbuka dan tertutup
sama saja
mampu memancing birahi binatang

yang peduli dan kurang ajar
sama saja
dipanggil dengan sebutan jalang

besok-besok aku mau diam
jangan bilang kepedulianku redam

Senin, 29 Juni 2020

Surat untuk wakil rakyat: Jasmerah gelap!

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Semboyan itu adalah judul pidato yang disampaikan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang terakhir pada hari ulang tahun Republik Indonesian tahun 1966. Sejarawan Rushdy Hoesein, seperti yang saya kutip dalam CNN Indonesia, mengatakan Bung Karno memberikan judul tersebut pada pidatonya untuk mempertahankan garis politiknya yang berlaku. Dalam pidato tersebut Bung Karno menyebutkan beberapa hal penting seperti "tahun-tahun yang gawat", dan "konflik sesama anak bangsa". Sementara itu Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Suyatno, mengatakan terdapat 89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan betapa penting revolusi dan sejarah bagi Bung Karno. 

Revolusi tak mungkin bisa lepas dari konteks sejarah. Sejarah mencatat, revolusi di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan sangat berdarah-darah dan menimbulkan banyak luka. Kaitan antara kekerasan dengan revolusi memang erat, bahkan sampai konflik bersenjata. Hal itu wajar dan bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada mulanya, perjuangan anak bangsa dari golongan dan ideologi manapun sama dan memiliki satu tujuan, yaitu lepas dari cengkraman penjajah. Setelah merdeka, bukan berarti semua berakhir. Pada awal-awal kemerdekaan, berbagai golongan dan ideologi yang berjuang merasa berhak dan ingin mendirikan negara sesuai cita-cita dan ideologi yang dianutnya. Maka dari itu banyak terjadi pemberontakan dari berbagai golongan. Misalnya pemberontakan PKI yang terjadi pada tahun 1948 dan 1965, pemberontakan Permesta, pemberontakan PRRI, pemberontakan DI/TII, pemberontakan RMS dan pemberontakan-pemberontakan lain yang terjadi karena ketidakpuasan dan ketidakpercayaan kepada pemerintah Indonesia. Begitu banyak korban berjatuhan, begitu banyak duka yang dirasakan. Maka tepat sekali kalau kita tidak boleh meninggalkan atau juga melupakan sejarah. Namun itu bukan berarti kita harus mempertahankan sejarah kelam tersebut. Yang lebih terpenting adalah jangan mengulang sejarah kelam itu. Caranya hanya satu yaitu berhenti mengungkit-ungkit luka lama itu, terlebih untuk memancing keributan dan permusuhan. Sudahilah memainkan isu-isu yang sensitif dengan tujuan mengorek luka lama. Terlebih kepada para pejabat negara. Jangan biarkan kebencian-kebencian itu kian pekat dengan berbagai kebijakan dan isu-isu yang dimainkan. 

Yang paling terbaru dan masih hangat adalah keinginan DPR untuk membuat Undang-undang tentang Haluan Ideologi Pancasila. Sebenarnya tak masalah jika memang ada urgensi atau kepentingan yang begitu mendesak. Tetapi dalam situasi pandemi yang tengah terjadi ini, seharusnya mereka fokus pada hal bagaimana cara mengatasi pandemi saja. Terlebih RUU tentang Haluan Ideologi Pancasila ini menuai banyak kontroversi. Ini sangat sensitif, mengingat Pancasila sebagai ideologi atau dasar negara itu dihasilkan oleh pergolakan dan perdebatan panjang para pendiri bangsa ini. Seharusnya persoalan itu sudah selesai dan tak perlu lagi diganggu gugat. Apalagi dalam RUU itu memasukkan pemikiran Bung Karno tentang Trisila dan Ekasila yang seakan-akan mereduksi nilai pancasila. Bukan itu saja, akan tidak adil rasanya jika pemikiran Bung Karno itu dipakai sementara pemikiran tokoh lainnya terutama tokoh-tokoh umat islam mengenai dasar negara yang kemudian dituangkan ke dalam piagam jakarta tidak dipakai. Tokoh-tokoh islam ingin juga agar Sila ke-1 dalam Pancasila versi Piagam Jakarta dimasukkan dan dihidupkan kembali. Padahal persoalan ini telah lama selesai. Tapi malah tercium lagi dengan adanya RUU HIP yang seakan pilih kasih. 

Sementara itu, bagi umat islam yang memprotes dan ingin agar Sila ke-1 Pancasila versi Piagam Jakarta dimasukkan, malah dicap sebagai pengusung khilafah. Di sisi lain, bagi yang menolak gagasan dan keinginan umat islam itu dituding sebagai antek komunis, liberal, sekuler dan lain sebagainya. Tentu hal itu akan mengakibatkan sentimen dan benturan antar anak bangsa. Kita malah saling tuduh menuduh, dan lama-lama justru akan berbahaya.  Bagaimana mungkin, para pejabat-pejabat yang seharusnya lebih paham tentang itu malah terkesan sengaja memicu konflik horizontal. Apa motif kalian wahai pejabat yang katanya wakil rakyat?
Apa kalian memang sengaja membuat keributan ini agar kami sibuk berkelahi dengan sesama kami, agar tak ada lagi waktu kami untuk mengkritisi kebijakan yang jauh lebih penting? Terlebih di masa pandemi ini, seharusnya kalian lebih fokus bagaimana caranya mengatasi ini semua. Ini malah terkesan seperti memaksa kami berkelahi. Belum lagi para buzzer yang entah dikendalikan oleh siapa, yang selalu memainkan isu-isu sensitif. Motif mereka sama. Tapi yang ini lebih parah, selain untuk mengaburkan isu-isu yang lebih penting, mereka juga ingin melahirkan tokoh atau "boneka" baru yang seakan-akan bisa mengatasi permasalahan dan kemudian menjadi panutan baru bagi rakyat yang "kelaparan". 

Ujung-ujungnya ini hanya soal uang, bukanlah lagi persoalan ideologi seperti yang terjadi dahulu. Percayalah, semua api yang berusaha kalian nyalakan kembali ini akan berbahaya, dia buta dan akan membakar semuanya, kita bisa kembali berdarah-darah. Bukan kami saja, tapi kalian juga. 
Jasmerah gelap! Jangan sekali-sekali mengulang sejarah gelap!

Sabtu, 27 Juni 2020

Satu tahun: Bukan tuntutan jaksa kepada penyerang Novel Baswedan

tiga tahun lamanya aku berlari 
mencari sesuatu yang ternyata sia-sia
aku pikir aku menemukan cinta
ternyata dia malapetaka
setelah itu aku seperti dihukum
tak bisa lagi aku berlari untuk mencari

aku terpasung satu tahun
dalam jeruji yang bernama kesendirian
aku kira akan berlangsung lama
ternyata satu tahun itu sebentar
lalu kucoba lagi untuk melangkah
memburu yang namanya bahagia

pelan-pelan aku mencari 
namun belum juga kutemukan apa-apa
kupercepat langkah kaki
dan akhirnya kutemukan satu bunga
yang ternyata lebih berbahaya
lagi-lagi aku berdarah dan penuh luka 

dasar kurang ajar 
mencintainya kemarin itu
adalah kesalahanku yang teramat besar
hukuman satu tahun terlalu sebentar 
mana cukup untuk aku belajar

sebelum ada kehancuran yang lebih besar
tolong kurung aku dua puluh tahun lagi

Tanjung Pinang, 14 Juni 2020


Surat tertutup untuk "kawan" sekolah

Dear Diani
Aku dengar hari ini engkau lulus kuliah
Selamat!
Rayakanlah dengan sukacita
Kalau tidak pun tak apa
Sebab yang terpenting kau tahu selanjutnya hendak melangkah kemana
Biar kutebak, kau pasti akan melangkah ke depan
Aku tak tahu alasannya
Yang jelas, kau tak mungkin melangkah ke belakang
Benar sekali, ada aku di sana
Manalah mungkin engkau mau
Oh iya, katanya kau suka berwisata
Sekali-sekali jalan-jalanlah ke dalam pikiranku
Barangkali sekadar untuk melihat-lihat keadaanku yang sekarang
Tenang... kita sama
Merelakanmu pun aku sudah lulus


Kedai kopi, 24 Juni 2020

Semoga abadi

Tahun ini usia blog saya sudah lima tahun. Dalam kurun waktu lima tahun ini, tak ada sekalipun saya memposting di sini. Inilah postingan yang pertama. Bukannya malas menulis, bukan pula lupa. Lebih tepatnya belum berani. Aneh sebenarnya, tapi begitulah faktanya. Saya begitu pengecut untuk menyebarkan tulisan saya. Padahal belum tentu juga akan dibaca oleh banyak orang

Saya termasuk rajin menulis, tentang apa saja, di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Bagi saya menulis sama halnya dengan bercerita. Hanya saja bukan kepada manusia, tetapi kepada huruf-huruf yang kemudian melahirkan kata-kata dan tumbuh menjadi kalimat-kalimat yang menyusun cerita ataupun bentuk yang lainnya. Bercerita kepada barisan huruf-huruf sangat menyenangkan. Minim resiko. Huruf-huruf itu tak pernah protes, apalagi marah. Padahal mereka berpotensi berubah wujud menjadi kata, lalu kalimat. Syukur-syukur kalau bagus. Tetapi mereka tak pernah marah ketika bermetamorfosis menjadi tulisan yang tak bagus, bahkan tak dimengerti. 

Lain lagi ceritanya ketika saya bercerita kepada manusia. Rasanya sudah jelas yang saya sampaikan, jujur dan apa adanya, tetapi mereka kadang malah marah-marah. Itu tak seberapa, yang paling parah kadang mereka pergi meninggalkan saya. Tetapi huruf-huruf tak pernah pergi. Justru huruf-huruf itu memperbanyak diri ketika saya ingin bercerita kepada mereka.

Selama ini saya hanya menulis dalam catatan-catatan harian, aplikasi-aplikasi catatan di laptop ataupun di telepon cerdas. Sebenarnya itu cukup bagi saya, tak kurang. Toh saya juga tak terlalu berambisi agar banyak orang yang menyukai tulisan saya. Tetapi akhir-akhir ini saya cemas. Kalaulah saya mati, apa kabar tulisan-tulisan itu? Mereka akan ikut mati. Padahal kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kalau saya orang terkenal, terpandang dan berpengaruh kepada banyak orang mungkin saya tak akan secemas ini. Karena tulisan-tulisan saya akan tetap dirawat oleh banyak orang. Tetapi saya ini hanya orang biasa yang bahkan untuk lulus kuliah tiga setengah tahun saja tak bisa. Jadi cara yang mungkin satu-satunya untuk tetap merawat hasil pemikiran saya lewat tulisan-tulisan agar ia abadi adalah dengan menuliskannya di blog ini. Harap saya tak banyak, satu orang saja yang membaca selain saya, bagi saya itu sudah berhasil untuk merawat tulisan-tulisan saya. Cukup dan tak kurang. Jadi, bagi "engkau" yang nanti menemukan dan membaca tulisan saya ini, saya ucapkan terima kasih yang tak ada habis-habisnya. Tapi kalau boleh berharap lebih, saya juga ingin "engkau" sama halnya seperti huruf-huruf yang bisa menjelma menjadi kalimat; mampu memperbanyak diri; menjadi "kalian". 

Mungkin ke depannya saya akan rajin memposting tulisan-tulisan saya yang sudah lama lahir, ke dalam blog ini. Oleh karena itu tulisan-tulisan yang saya posting di sini tidak berarti itu tulisan baru. Bisa jadi tulisan-tulisan lama. Dan untuk itu saya juga membutuhkan waktu memilah tulisan mana yang akan saya posting di sini. Sebab soal keberanian tadi hingga saat ini masih menjadi alasan yang belum tuntas saya menangkan karena berbagai pertimbangan. Mungkin beberapa tulisan saya memang tak memiliki kaki untuk bepergian ke kepala orang lain. Jadi untuk tulisan-tulisan yang tak memiliki kaki itu, biarkanlah mereka tetap di rumahnya, di dalam kepala saya.

Akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk engkau! eh, kalian!