Jumat, 03 Juli 2020

Fans karbitan!

Barangkali beberapa teman-teman yang mengenal saya sejak zaman sekolah sekarang menganggap saya adalah fans karbitan. Itu tak sepenuhnya salah. Sebab dalam dua timeline kehidupan yang berbeda, saya menjadi penggemar dua klub sepak bola yang berbeda pula. Circa 2010, saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya menjadi pendukung kesebelasan FC Barcelona. Tentu saja, teman-teman sekolah saya tahu betul apa klub favorit saya. Lalu sekitar tahun 2015, saat akhir-akhir SMA hingga saat ini, saya mendukung kesebelasan dari Liga Primer Inggris, Liverpool.

Bagi teman-teman masa remaja saya saat itu, mereka mungkin sekarang agak bingung melihat saya yang berpindah haluan mendukung klub lain. Berbeda dengan teman-teman yang baru saya kenal pada saat kuliah, yang mereka tahu saya adalah pendukung Liverpool. Tetapi tentulah semua ada pertimbangan. Bagi saya, menjadi penggemar sebuah klub sepak bola itu sama halnya dengan menyukai wanita. Pilihan untuk menyukai wanita mana, ada ditangan kita, dan pilihan itu tentu ada alasan. Tetapi bagaimana seseorang bisa memberi alasan terhadap pilihannya itu perkara berbeda. Alasan pragmatis pun kadang tak terelakkan. Misalnya menyukai klub sepak bola yang disukai oleh gebetan, dengan harap bertambahlah sedikit tingkat keberhasilan untuk memulai hubungan. Atau jika ditingkat anak-anak remaja, menyukai klub yang disukai oleh teman-teman sepermainan biar obrolan jadi nyambung.

Tapi itu tak salah. Manusia seusia itu belum mampu memberi alasan yang hebat dari apa yang ia pilih. Wajar dan sangat manusiawi. Pada usia itu, daripada memikirkan hal yang berat-berat lebih baik bermain bola dengan kawan-kawan dilapangan kosong sekitar perumahan. Ada juga anak-anak yang menjadi penggemar klub sepak bola karena mengikuti jejak orang tuanya. Barangkali itu sebagai bentuk kecintaannya. Hal seperti itulah yang tak saya dapatkan. Ayah dan Ibu saya bukanlah penggemar klub sepak bola. Tapi sesekali Ayah saya ada juga menonton siaran pertandingan sepak bola di televisi. Paling hanya sekadar melihat sepintas dan tidak terlalu tertarik sampai mengidolakan klub tertentu. Ayah saya lebih seringnya menonton pertandingan tinju. Oleh karena itu, ketika masih bocah saya tidak ada mengidolakan klub sepak bola manapun.

Tapi walau bukan penggemar sepak bola, Ayah pernah membelikan saya kaos bola. Kaos timnas sepak bola Italia, bernama punggung Totti. Kaos itulah yang menjadi kaos bola saya pertama kali. Kaos itulah yang menemani masa kecil saya ketika bermain bola bersama kawan-kawan di lapangan sekitar perumahan. Namun seiring berjalannya waktu, saya ingin juga seperti kawan-kawan saya yang menggunakan kaos bola dari klub kebanggaannya. Masalahnya, pada saat itu saya sendiri tidak tau klub apa yang sebenarnya saya idolakan. Alhasil koleksi kaos bola saya campur-campur seperti rujak. Ada kaos Manchester United, Liverpool, Barcelona, Real Madrid, dan klub terkenal lainnya.

Tapi jujur, pada saat itu yang sering saya gunakan adalah kaos klub bola Liverpool dan Barcelona. Karena kebetulan kaos yang saya miliki itu bernama punggung pemain yang menurut saya hebat. Kaos Liverpool saya bernama punggung Torres. Kaos Barcelona saya kalau tidak salah bernama punggung Henry. Kaos yang saya sebut terakhir itu hasil pemberian dari kawan saya. Entah kebetulan atau tidak, ketika saya menggunakan kedua kaos bola itu saat bermain sepak bola, kemampuan bermain bola saya menjadi meningkat alias makin jago. Itulah yang membuat saya lebih suka menggunakan dua kaos klub sepak bola itu ketimbang kaos klub bola lainnya.

Lama kelamaan saya pun mulai menyukai dua klub sepak bola itu. Tapi bukan lelaki sejati namanya kalau tak bisa memutuskan pilihan. Di antara dua klub itu saya memutuskan untuk menjadi penggemar Barcelona. Kebetulan pada masa itu memang Barcelona sedang kuat-kuatnya. Permainannya sangat tak layak untuk tidak ditonton. Saya mulai sering membaca-baca sejarah klub itu untuk lebih mengenal. Sebab kalau tak kenal maka tak sayang.

Karena kecintaan saya dengan klub itu, maka setiap kali bermain bola di playstation, saya selalu menggunakan klub itu. Tentu saja saya lebih sering menang daripada kalah. Karena dalam dunia playstation pun klub itu memang kuat. Pemain-pemainnya memiliki status poin diatas rata-rata pemain dari klub lain. Sampai pada suatu waktu, saya pernah diledek oleh kawan saya karena hanya berani menggunakan klub itu setiap bermain PS. Hal itu membuat saya tertantang dan mencoba-coba menggunakan klub lain yang tidak sekuat Barcelona. Berbagai klub saya coba pakai, tak ada satupun rasanya yang seenak ketika menggunakan Barcelona. Kali ini saya lebih sering kalah daripada menang.

Sampai pada akhirnya saya teringat bahwa dulu saya juga pernah menyukai Liverpool. Maka saya coba menggunakan klub itu. Tapi betapa terkejutnya saya melihat status poin pemain-pemainnya. Rendah-rendah. Pemain-pemain hebatnya pun sudah tak lagi banyak. Asli, berat sekali rasanya memenangkan pertandingan dengan menggunakan Liverpool. Apalagi melawan klub-klub yang memiliki pemain yang kehebatannya diatas rata-rata. Bisa diazab. Tapi karena hal itu justru membuat saya lebih tertantang. Saya fokuskan tetap menggunakan Liverpool setiap bermain bola di playstation. Saya racik-racik sendiri formasi baru untuk menemukan yang pas dan mantap. Pokoknya saya makin sering bermain playstation saat itu. Sampai-sampai cabut sekolah.

Yang ada di dalam kepala saya waktu itu hanya bagaimana caranya saya bisa memenangkan setiap permainan dengan menggunakan Liverpool. Saya sampai mencari-cari formasi yang mantap pada mbah Google ataupun Youtube. Tapi tetap saja, sulit sekali menang dengan menggunakan klub yang berisi pemain-pemain di bawah rata-rata. Sampai-sampai saya kesal sendiri. Mengumpati pemain-pemain Liverpool adalah rutinitas saya ketika kalah bermain. Sampai kawan saya yang juga lawan dalam bermain PS menceramahi saya. “Bagaimana mau menang, pemain dari klub favorit sendiri malah dimaki-maki” katanya pada saya. Saya agak tersentak. Betul juga apa yang dia bilang.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba mencintai klub itu. Manalah tau dengan itu saya lebih jago menggunakan klub itu dan meraih kemenangan demi kemenangan saat bermain PS. Saya mulai membaca-baca sejarah klub itu. Menonton pertandingan-pertandingannya. Baik pertandingan yang sedang berlangsung ataupun siaran ulang pada masa-masa kejayaannya. Saya makin sering menggunakan mesin pencarian Google dengan menuliskan kata kunci yang berhubungan dengan Liverpool. Hingga saya menemukan ulasan film yang mengangkat cerita tentang fans Liverpool.

Film itu berjudul Will, yang dirilis pada tahun 2011. Saya yang penasaran dan memang sedang ingin mencari tau semua yang berhubungan dengan Liverpool pun akhirnya menonton film itu. Saya tak akan mengulas film itu dalam tulisan ini. Intinya film itulah yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan Liverpool. Karena sebenarnya saya juga sudah jatuh cinta dengan klub ini karena slogan klubnya yang menurut saya begitu menyentuh dan indah sekali.

Semenjak mencintai klub ini, keajaiban pun terjadi. Setiap bermain playstation saya semakin bangga dan yakin menggunakan Liverpool. Meskipun tetap lebih sering kalah. Karena memang susah sekali menggunakan Liverpool yang pada masa itu diisi pemain-pemain yang status poinnya seperti hidup segan mati tak mau. Pemain depannya seperti jalan kaki. Larinya lamban sekali. Pemain bertahannya macam bangunan tua. Sudah hampir roboh. Sulit sekali mau menang dengan komposisi pemain seperti itu. Tetapi bedanya, saya tak lagi marah-marah seperti dulu. Saya tak lagi memaki-maki pemain itu ketika kalah. Walaupun dalam hati ada sedikit kesal. Itu baru di dalam permainan playstation. Dalam pertandingan yang sesungguhnya pun klub yang saya cintai ini nasibnya tak jauh beda. Hancur. Tapi saya sudah kadung jatuh cinta dengan klub ini. Mengingat perjuangan saya selama ini yang begitu serius sekali mempelajari untuk menggunakannya dalam bermain playstation. Juga karena karena sejarah-sejarahnya dan yang paling terakhir karena film yang berjudul Will itu. Akhirnya saya memantapkan hati untuk menjadi pendukung Liverpool.

Bagi saya ada tantangan tersendiri sebagai penggemar Liverpool. Bagaimana tidak, seringkali kali saat menonton pertandinganya, saya tak bisa santai. Selalu senam jantung. Dan bagi saya itu menyenangkan sekali. Meski ada juga kadang-kadang mereka bermain biasa-biasa saja yang membuat agak membosankan untuk ditonton. Tapi saya sangat bersyukur karena dalam waktu kurang lebih lima tahun saja sejak memutuskan untuk menjadi pendukung klub ini, saya bisa melihat klub kesayangan saya mengangkat Piala Liga Champions. Dan yang paling terbaru menjuarai Liga Inggris yang terakhir kali diraih tiga puluh tahun yang lalu. Penantian yang sangat lama bagi penggemar yang sedari dulu setia mendukung Liverpool. Yang barangkali sekarang sudah berumur tua.

Akhir kata, saya ucapkan selamat untuk semua Kopites di seluruh dunia! Terutama untuk yang sudah bangkotan. Selamat, kakek!

You’ll Never Walk Alone!

Dari saya, fans karbitan.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar