Sabtu, 27 Juni 2020

Semoga abadi

Tahun ini usia blog saya sudah lima tahun. Dalam kurun waktu lima tahun ini, tak ada sekalipun saya memposting di sini. Inilah postingan yang pertama. Bukannya malas menulis, bukan pula lupa. Lebih tepatnya belum berani. Aneh sebenarnya, tapi begitulah faktanya. Saya begitu pengecut untuk menyebarkan tulisan saya. Padahal belum tentu juga akan dibaca oleh banyak orang

Saya termasuk rajin menulis, tentang apa saja, di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Bagi saya menulis sama halnya dengan bercerita. Hanya saja bukan kepada manusia, tetapi kepada huruf-huruf yang kemudian melahirkan kata-kata dan tumbuh menjadi kalimat-kalimat yang menyusun cerita ataupun bentuk yang lainnya. Bercerita kepada barisan huruf-huruf sangat menyenangkan. Minim resiko. Huruf-huruf itu tak pernah protes, apalagi marah. Padahal mereka berpotensi berubah wujud menjadi kata, lalu kalimat. Syukur-syukur kalau bagus. Tetapi mereka tak pernah marah ketika bermetamorfosis menjadi tulisan yang tak bagus, bahkan tak dimengerti. 

Lain lagi ceritanya ketika saya bercerita kepada manusia. Rasanya sudah jelas yang saya sampaikan, jujur dan apa adanya, tetapi mereka kadang malah marah-marah. Itu tak seberapa, yang paling parah kadang mereka pergi meninggalkan saya. Tetapi huruf-huruf tak pernah pergi. Justru huruf-huruf itu memperbanyak diri ketika saya ingin bercerita kepada mereka.

Selama ini saya hanya menulis dalam catatan-catatan harian, aplikasi-aplikasi catatan di laptop ataupun di telepon cerdas. Sebenarnya itu cukup bagi saya, tak kurang. Toh saya juga tak terlalu berambisi agar banyak orang yang menyukai tulisan saya. Tetapi akhir-akhir ini saya cemas. Kalaulah saya mati, apa kabar tulisan-tulisan itu? Mereka akan ikut mati. Padahal kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kalau saya orang terkenal, terpandang dan berpengaruh kepada banyak orang mungkin saya tak akan secemas ini. Karena tulisan-tulisan saya akan tetap dirawat oleh banyak orang. Tetapi saya ini hanya orang biasa yang bahkan untuk lulus kuliah tiga setengah tahun saja tak bisa. Jadi cara yang mungkin satu-satunya untuk tetap merawat hasil pemikiran saya lewat tulisan-tulisan agar ia abadi adalah dengan menuliskannya di blog ini. Harap saya tak banyak, satu orang saja yang membaca selain saya, bagi saya itu sudah berhasil untuk merawat tulisan-tulisan saya. Cukup dan tak kurang. Jadi, bagi "engkau" yang nanti menemukan dan membaca tulisan saya ini, saya ucapkan terima kasih yang tak ada habis-habisnya. Tapi kalau boleh berharap lebih, saya juga ingin "engkau" sama halnya seperti huruf-huruf yang bisa menjelma menjadi kalimat; mampu memperbanyak diri; menjadi "kalian". 

Mungkin ke depannya saya akan rajin memposting tulisan-tulisan saya yang sudah lama lahir, ke dalam blog ini. Oleh karena itu tulisan-tulisan yang saya posting di sini tidak berarti itu tulisan baru. Bisa jadi tulisan-tulisan lama. Dan untuk itu saya juga membutuhkan waktu memilah tulisan mana yang akan saya posting di sini. Sebab soal keberanian tadi hingga saat ini masih menjadi alasan yang belum tuntas saya menangkan karena berbagai pertimbangan. Mungkin beberapa tulisan saya memang tak memiliki kaki untuk bepergian ke kepala orang lain. Jadi untuk tulisan-tulisan yang tak memiliki kaki itu, biarkanlah mereka tetap di rumahnya, di dalam kepala saya.

Akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk engkau! eh, kalian!
    



2 komentar:

  1. Sama. Aku juga kadang takut kalo tulisan dibaca sama orang lain... Ditunggu tulisan yg lainnya

    BalasHapus
  2. Kalau Blogger memiliki fitur like, saya akan menekan tombol tersebut

    BalasHapus